artikel

Tulisan Akhir Tahun 2019

December 31, 2019

Tulisan ini saya buat mulai jam 15.25 sampai entah kapan saya bosan dan capek mengetiknya. Saya buat pada saat saya masih duduk manis di meja kantor saya sambil menunggu waktu jam pulang. Bukannya saya mau magabut ya.. tetapi memang tugas-tugas pokok saya sudah semua selesai dikerjakan dari yang namanya “working plan next year“, recap kegiatan tahun 2019 sampai hal-hal receh seperti balas email, cek dokumen dan direct communication sama HQ di Korea sana.

 

 

Tahun 2019 ditutup dengan Alhamdulillah bagi saya karena saya berfikir bahwa tahun ini banyak membawa perubahan-perubahan yang baik pada diri saya termasuk di dalamnya perubahan cara berfikir saya tentang sesuatu. Memang, tahun ini banyak juga hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi; Misalnya, jagoan pilihan saya yang kalah dalam pemilihan Presiden lalu 😉. Tapi sungguh, kemudian ini tidak membawa dampak yang cukup besar dalam penilaian saya tentang sesuatu.

 

Ayah saya, Almarhum (semoga Alloh mengangkat harkat dan derajatnya nanti di yaumul akhir) sering kali menggunakan istilah think globally and act locally pada saat beliau berbicara berdikusi dan menasehati saya. Beliau paham benar bagaimana kita harus berfikir cukup luas dan sedikit rumit untuk menyelesaikan suatu masalah, walaupun masalah itu terlihat sederhana dan sepele. Faham itu pun rupanya juga jadi acuan boss saya sekarang ini walau dengan istilah yang sedikit berbeda. Nasehatnya pada saya adalah, andai kamu menemukan suatu masalah, maka lihatlah ke kanan-kiri, depan-belakang, atas dan bawah sampai kamu benar-benar mengerti permasalahan tersebut.

 

Terlepas dari influence jargon yang diberikan oleh beliau-beliau tadi terhadap saya. Saya memahami bahwa seseorang haruslah memahami betul suatu masalah dan harus benar-benar meneliti kembali akar pangkal permasalah tersebut.

 

Untungnya, sebagai seseorang yang bekerja sebagai Compliance Specialist, saya dilatih untuk terus menemukan akar permasalahan dari sebuah masalah sebelum menemukan solusi perbaikan yang paling tepat dalam memecahkan suatu masalah itu. Memang kadang-kadang permasalan itu pelik dan cenderung seperti benang kusut yang tidak ada ujungnya. Tetapi, jika kita sangat rajin mencari, maka akan selalu ada benang merah yang bisa menghubungkan semuanya.

 

Nah, di tahun ini 2019 ini, ada semangat yang saya tambahkan pada saat saya mencoba mencari akar permasalah itu. kalimat kecil yang memang kadang kita lupa bahwa esensi dari pemecahan masalah sebenarnya adalah untuk memudahkan orang lain. Membuat orang lain lebih nyaman dalam menjalankannya, memberikan solusi yang terbaik yang bisa disepakati oleh semua pihak sehingga semua pihak dapat terakomodir kepentingannya baik secara jangka pendek maupun jangka panjang. 

 

Kadangkala dan mungkin seringkali kita juga lupa bahwa dalam memutuskan sesuatu, kita cenderung membuat keputusan yang paling gampang dan nyaman untuk diri kita sendiri. Tapi jika keputusan itu menyangkut hajat hidup orang banyak, perlukah kita berfikir seperti itu? Beranikah kita mengorbankan kepentingan kita dan bahkan juga ego kita pada saat kita mengambil sebuah keputusan.

 

Esensinya, keputusan-keputusan yang kita ambil dalam menyelesaikan suatu masalah baik besar maupun kecil skalanya, pasti akan bersinggungan dengan keputusan, masalah dan kepentingan orang lain juga. Prinsipnya, kita harus cukup bijaksana dalam mengambil keputusan-keputusan tersebut. Kaji ulang dan benar-benar resapi apakah benar keputusan itu adalah keputusan yang terbaik yang bisa kita ambil dengan menambah semangat memudahkan orang lain.

 

Namun pada akhirnya itu, apabila suatu permasalah sudah diputuskan, dimana dalam pengambilan keputusan tersebut kita sudah melakukan langkah-langkah yang sekiranya melalui jalur fikir yang benar dan memang sudah melalui pertimbangan yang matang, maka teguhlah dengan keputusan yang diambil. Bersabarlah menerima kritikan ataupun cacian dari orang lain. Karena kembali kita harus faham bahwa tidak semua orang memiliki rasa, interpretasi dan kepemahaman yang sama dengan kita.

 

Jangan gentar, majulah jika benar.

 

31 Desember 2019

16.17 – akhir tulisan

 

Moh. Elvin Muharam